Generasi yang hilang di ‘Desa Wanda’

Generasi-yang-hilang-di-Desa-Wanda

Desa Panyarang yang dikenal sebagai desa janda mengalami krisis pendidikan. Banyak siswa kelas enam harus rela putus sekolah.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, banyak warga yang mengajak anak-anaknya bekerja di pertambangan pasir di kawasan Panyarang. Rombongan dari SD Panyarang tidak tamat SD.

“Kira-kira tahun 1996 ada SD di Panyarang.

Kebetulan tahun itu SD Panyarang tidak bisa menyelesaikan kelas 6 SD,” kata lurah Ciburayut Duloh.
Baca juga:
Lepaskan virus kampung janda

Tambang C sendiri merupakan tambang ilegal. Operasi

penambangan tidak memiliki izin dari pemerintah daerah.

“Ekskavasi C di RW 07 memang ilegal. Karena kami dari pemerintah desa saat itu selalu memberikan masukan kepada pemilik tambang atau pemilik galian C untuk mengurus izinnya. Karena bisa dibilang tanah pertama, Tanah saya adalah mengerjakan saya, mengapa saya harus mendapatkan izin?” kata Duloh.
Baca juga:
Tambang ilegal membawa stigma “desa Wanda”

Namun, krisis pendidikan di Kampung Panyar tidak berlangsung lama. Pemerintah setempat segera menyatakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak.

“Dari sisi pendidikan, MUSPIKA mencoba memberikan masukan

dan mengajak warga Kampung Panyarang tentang pentingnya pendidikan bagi masa depan anak atau anaknya. Syukurlah itu hanya terjadi setahun,” pungkas Duloh.

Baca Juga :

nac.co.id
futsalin.id
evitdermaclinic.id
kabarsultengbangkit.id
journal-litbang-rekarta.co.id
jadwalxxi.id
gramatic.id
tementravel.id
cinemags.id
streamingdrama.id
snapcard.id
katakan.id
cpdev.id